Archive for Juli 2017
Dimana kau ?
3
Dia hanya terdiam saat jiwan lewat didepannya, karena sejak 2 minggu ini mereka berdiaman akhirnya tidak ada yang memulai menyapa diantara mereka berdua. Tesya berharap semoga dewa tidak marah padanya.
“Hari ini kelaas bebas, semua guru sedang rapat, apa yang akan kau lakukan sekarang” ucap nomi sembari memberitahu tesya.
“Entahlah, aku tidak tahu” jawab tesya dengan nada lesu dengan menundukkan kepalanya, kemudiaan ia berdiri dari tempat yang ia duduki tadi.
Sebentar lagi disekolah SMA tersebut akan ada study tour, entah kemana semua murid belum tahu. Tahun lalu tournya kegunung, tapi tahun kemarinnya kehutan. Jiwan ingin tahun ini kegunung, karena suka dengan travel maka ia mengusulkan wali kelas agar kegunung.
“Kegunung saja, kita bisa melihat seluruh pemandangan dari atas, kita juga bisa dekat dengan bintang bulan dan juga kehangatan yang kita dapatkan disana” usul jiwan pada wali kelas
“Iya kegunung saja bu”
“Iya setuju.. !” jawab semua murid yang ada dikelas tersebut.
“Huh, tidak – tidak jangan kegunung, disana itu tinggi ! bisa – bisa nanti kita jatuh kejurang, mending kita kehutan saja teman – teman” cengir tesya ke jiwan dengan nada keras.
“Huu.. dasar penakut, kau ini memang penakut” balas cengir jiwan mengarah ke tesya dengan nada dinginnya.
Wali kelas lalu mengusulkan agar study tournya dilaksanakan kegunung, karena banyak murid yang menginginkan kegunung. Keputusan tersebut membuat tesya takut, karena ia yang takut ketinggian dan kedinginan.
Namun, ia senang karena jiwan tadi telah menyahut perkataannya. Entah kesambet apa dia namun tesya senang sekali hari ini.
“Aku pulang..”
“Tumben jam 10 sudah pulang kak, biasanya juga sampai sore” jawab fano adik tesya itu sambil membukakan pintunya.
“Hari ini tidak ada pelajaran, jadi kakak pulang lebih awal” sambil meletakkan sepatunya dirak sepatu, kemudian pergi kekamar mandi untuk membasuh mukanya.
“Owh.. gitu ya” ucap fano dengan lirih.
“Ada apa ini, kok rame sekali, apa kakakmu sudah pulang ?” tanya ibunya pada fano
“Eh iya bu, mugkin kakak bolos masuk kelas” cengir fano karena kakaknya yang tak mendengarnya, saat tesya masih berada di kamar mandi.
“Kakakmu membolos, lihat saja nanti, akan ku hajar kakakmu itu, sekarang dimana dia !” dengan nada keras dan emosi yang sudah berkumpul lalu kemudian akan meledak seperti bom saat dibanting.
“Dia ada dikamar mandi bu..” Fano langsung berlari masuk kekamar dan mengunci rapat – rapat pintunya
“Hmm.. segar sekali rasanya, eh ibu, ibu kenapa ibu memasang muka begitu ?” tanya tesya pada ibunya dengan wajah takut itu.
“Hemmm.. apa kau tadi membolos tesya..!” dengan nada keras dan terlihat ditangannya sedang memegang sapu lidi
“Apa.. apa ibu akan memukulku ? e.. tidak bu, aku tadi pulang awal” tesya berlari ketakutan lalu menuju ke halaman belakang kemudian ia memanjat pohon
“Turun kau tesya, akan kuhajar kau karena sudah membolos”
“Hihihi.. mati kau kak, ibu kali ini marah besar padamu wekkk..” ledek fano dari atas jendela dengan mengeluarkan lidahnya.
“Ibu, fano berbohong, semua guru tadi sedang rapat, jadi semua murid disuruh pulang bu !” ucap tesya dengan keringat yang membasahi kepalanya
“Ha.. ? fano....... awas kau ya, akan ibu hajar kau” berbalik keatas melihat fano dari bawah
Setelah selesai makan malam, semuanya terlihat sangat letih kecuali sang ayah. Karena efek tadi habis main kejar – kejaran, jadi mereka sangat lelah.
“Ibu, 3 hari lagi sekoahku akan ada study tour, jadi besok malam aku akan belanja dengan ayah”
“Baiklah, kau ajak ayahmu”
“Aku ikut, aku ingin mainan terbaru tahun ini ayah” pinta fano
“Iya – iya, ayah akan mengajakmu” jawab sang ayah tanpa menoleh karena ia sedang fokus pada acara sepakbola.
Pagi harinya, ia tidak melihat jiwan berangkat sekolah. Kata bobi jiwan sedang sakit, sehingga bobi hari ini akan pergi menjenguk jiwan setelah pulang sekolah nanti.
“Bob, sampaikan salamku pada jiwan semoga dia cepat sembuh”
“Iya, nanti akanku sampaikan, tapi kalau tidak ada..”
“Iya – iya nanti aku akan mentraktirmu” potong omongan bobi, ia adalah teman yang hobinya makan terus
Setelah pulang sekolah, bobi ditraktir makan mie oleh tesya. Selesai makan bobi menuju rumah jiwan, dan kemudian ia mengetok pintu rumahnya.
“Jiwan..”
“Iya tunggu sebentar” ia beranjak dari kamar tidurnya
“Kamu, ayo masuk”
“Apa lukamu sudah sembuh” tanya bobi sambil celingak celinguk melihat sekitar seperti sedang mencari – cari.
“Iya, lumayanlah, hari ini orang tuaku sedang sibuk kerja, jadi hanya aku yang ada dirumah”
“Iya, apa kau tidak akan memberiku makanan pada temanmu yang kasihan ini ?” pinta bobi pada sahabatnya itu
“How.. jadi tadi kau melirik kesana – sini karena mencari makanan ya” cengir jiwan pada sahabatnya yang baru ia kenal
“Kau ini” sambil menggaruk kepalanya
“Ini sekaleng susu dan snack, oh iya apa tadi kau mengawasinya ?” tanya jiwan sambil menyodorkan makanan yang ia suguhkan
“Iya, dia terlihat gelisah tadi, Hahaha..” jawab dengan nada tertawa dan makanan yang berada dimulutnya itu.
“Oh iya, dia tadi menitipkan salam kepadamu, semoga kamu cepat sembuh katanya”
“Ternyata dia peduli” senyum jiwan pada sahabatnya itu.
Sore itu, tesya dan fano terlihat sangat rapi karena mereka akan pergi ke mall bersama ayahnya.
“Cepatlah nanti keburu malam !” ucap ayah didalam mobil
“Sebentar ayah, aku meninggalkan hp-ku dikamar” berlari menuju kamar
“Dia itu selalu saja, menyebalkan” tambah fano yang sedang berada dimobil
“Ayo yah, aku sudah mengambil hp-ku”
“Daa ibu..” memberi dada pada ibu mereka lewat kaca mobil
Selesai belanja, mereka makan malam. Sesudah itu tesya pergi kekamar untuk mengambil hpnya, sepertinya ada pesan. “Cerewet, apa kau tidak kangen padaku ?” isi pesannya, tesya tidak tahu siapa yang telah mengirim pesan tersebut, tapi ia mencurigai jiwan.
“Apa ini dia, ah mana mungkin dia mengirimkan kata – kata seperti ini, pasti ini nomi yang iseng” gumam tesya sembari merebahkan tubuhnya dikasur.
Pagi harinya, jiwan tidak terlihat lagi. Terlihat nomi menghampiri tesya dengan langkah yang lambat itu.
“Hey tesya, apa kau sudah menyiapkan barang – barangmu ?”
“Eh.. belum, nanti malam baru aku siapkan”
“Owh”
“Apa tadi malamaa kau mengirim pesan ini padaku ?” tanya tesya sambil melihatkan hp-nya pada sahabatnya itu
“Tidak, mana mungkin aku seperti itu. Apa mungkin itu jiwan ya ?” jawab nomi sambil menatap mata tesya
Gurupun datang kemudian memberi informasi tentang besok jangan sampai terlambat datang kesekolah. Setelah pulang sekolah, bobi menghampiri tesya.
“Kau terlihat gelisah sekali tesya”
“Emb tidak, aku baik – baik saja” jawab tesya sambil menyembunyikan wajah gelisahnya itu
“Yasudah aku pulang duluan, da..”
Sampai dirumah jiwan, ia menceritakan perilaku tesya padanya. Mereka berdua terlihat tertawa terbahak – bahak.
“Beesok jangan sampai terlambat jiwan”
“Iya, aku akan datang lebih awal, kita jalankan rencana kita dengan sempurna oke !”
“Aku pulang dulu ya”
Aku tak apa
2
Chapter 1
Chapter 1
I’m
fine
Tesya
terbangun dari tidurnya, iapun lekas mandi dan memakai seragam hari senin.
Ibunya memanggil utnuk sarapan, namun yang terjadi seperti biasanya ia
menyambar roti yang telah diolesi ibunya dengan selai dan kemudian pergi berangkat
sekolah dengan tergesa.
“Hay nak, bisakah kau mencontoh adikmu ini. Kau
selalu saja seperti itu” Ucap ibu tesya dengan nada kesal.
“Maafkan aku ibu, aku terlambat” Jawab tesya dengan
nada keras
Tesya
berlari melewati jembatan, karena hanya jembatan salah satu jalan menuju
sekolah. Sampai dikelas, ia menyapa semua yang ada disana kecuali satu orang
yang belum ia kenal. Entah siapa dia, namun tesya terlihat malu olehnya karena
dia sangat tampan dan keren.
Bel upacara berbunyi,
lekas tesya mengambil topi dan ternyata ia lupa membawanya, sepertinya ia masih
menaruhnya di atas meja makan tadi saat ia mengambil roti tadi. Tesya sangat
takut kalau ia dihukum berdiri di samping ring basket, tesya membuat keadaan
kelas menjadi rame karena pintanya pada semua orang untuk rela meminjami topi
dirinya.
“Tolong aku dewa, nanti aku bisa dihukum, dan
kulitku nanti akan hitam” Merengek sambil berlari – lari.
Tinggal
tesya dan satu orang yang belum ia kenal, ia menghampiri tesya dan memberikan
topinya pada tesya. Tesya tersipu malu saat orang itu menatap mata tesya dengan
tatapan keren, namun tesya menundukkan kepala lalu mengucapkan terimakasih pada
orang itu.
“Kau pakai saja topiku”
“Engh.. nanti kau bagaiman” jawab tesya dengan malu
“Sudahlah kau ambil saja” dengan nada dinginnya
orang itupun pergi
Orang itupun keluar,
tesya segera menuju lapangan dan berbaris. Hatinya bertanya-tanya saat ia
mengingat orang tadi, ia merasa bahwa laki-laki tadi akan dihukum. Nampak dari
kejauhan tesya melihatnya, orang itu berdiri disamping ring basket.
Selepas
uacara, ia duduk dibelakang tesya. Hati tesya semakin berdegub kencang sampai
ia tak berani menoleh kebelakang. Guru yang datang lalu meyuruh orang itu untuk
memperkenalkan dirinya, kemudian ia kedepan dengan kedua tangan yang ia taruh
disaku membat semua perempuan dikelas mengaguminya. Namanya jiwan, dia pindahan
dari smk tunas jaya dan hobinya adalah travelling.
Setelah
pelajaran selesai, Tesya dan nomi pergi kekantin. Ia melihat jiwan bersama
bobi, sepertinya mereka sudah akrab karena terlihat mereka makan bersama dan
ngbrol bersama. Bel berbunyi, semua murid masuk kelas. Pelajaran telah selesai,
tesya melihat jiwan tengah berada digerbang. Tiba – tiba jiwan menghentikan
langkah tesya, lalu menyapa tesya.
“Hay..”
“E.. Hay..”
“Dasar cewek,
mana topiku ?” tanya orang itu dengan nada paksa
“Ee..
sebentar ini ada ditasku,” kemudian tesya membuka tasnya, sebenarnya ia tadi
ingin mengembalikannya tetapi karena ia masih belum akrab jadi tesya malu.
“Aku pergi
dulu”
“Hey, tunggu
dulu !” Tesya menghentikan langkah jiwan
“Ada apa ?”
Berbalik muka ke arah tesya
“Terimakasih berkat
kau aku jadi tidak dihukum”
“ Jangan GR dulu, aku tadi hanya kasihan padamu.
Lagipula aku tidak tega melihat cewek dihukum”
“Owh.. Begitu
ya, tapi terimakasih”
Jiwanpun
berbalik dan mengangguk, sungguh laki –
laki memang aneh, sulit memahami sifatnya. Sesampainya dirumah, ibunya tesya
bertanya pada tesya kalau tadi ia meninggalkan topinya dimeja.
“Kenapa kamu meninggalkan topimu ?” tanya ibunya
“Akukan lupa bu..”
“Sudah kubilangkan, jangan tergesa – gesa kalau
berangkat!”
“Sudahlah bu.. lagipula aku tadi tidak dihukum, ada
orang yang menolongku tadi”
“Yasudah lain kali sekalian tinggal saja telingamu,”
“Ibu ini, sudahlah aku mandi dulu, aku tidak ingin
berdebat” dengan nada marah tesya menjawab, lalu ia mengambil handuknya.
Selepas
makan malam, tesya melihat acara TV bersama keluarganya. Mereka yang terdiri
dari ibu, ayah, adik dan kakak sangat menyukai acara sepakbola, apalagi kalau
gol, hadeh teriakan mereka sangat mengganggu tetangganya sampai tengah malam.
Tak khayal kalau mereka sering dimarahi tetangganya gara – gara suara mereka
yang kencang. Ada juga yang menyebut mereka sebagai keluarga “Aneh”, tapi
mereka tetap saja begitu.
“Dia tampan, aku suka rambutnya, aku juga suka gaya
dia berbicara” ucap tesya saat ia tidur.
Pagipun tiba, seperti
biasa mereka berebut kamar mandi, fano adalah adik tesya yang tak mau kalah, ia
menyenggol lengan kakaknya agar ia bisa masuk duluan. Tak heran jika tesya sering
terlambat kesekolah karena adiknya yang tak mau mengalah. Tesya berangkat
dengan diantar ayahnya memakai mobil.
Ketika sampai dikelas
tesya melihat jiwan tengah berdiri didekat jendela sambil melihat Pohon yang
ada dibawah. Tesya menghampiri jiwan, niatnya adalah mengajak dia mengobrol,
“Apa yang sedang kau lakukan disini”
“Apa kau ini tidak ada pekerjaan ?” menjawab lalu
menoleh kearah tesya
“Akukan hanya bertanya”
“Dasar cewek,”
“Menyebalkan sekali !” kemudian tesya pergi
Ibu
guru ranti datang, mereka kembali ketempat duduk mereka masing – masing. Ia adalah wali kelas dikelas tersebut. Masalahnya
adalah jiwan tidak pandai matematika,
saat menerangkan jiwan berusaha memperhatikan, namun saat Bu ranti menyuruhnya
kedepan, jiwan tidak bisa mengerjakan soalnya.
Akhirnya jiwan diberi
PR khusus, tesya yang menertawainya terlihat sangat senang saat jiwan mengeluh.
Bel berbunyi waktunya istirahat, tesya dan nomi pergi ke perpus untuk
mengembalikan buku yang telah mereka pinjam.
Jiwan
yang membuntuti mereka sampai keperpus, kemudian mendatangi tesya dan tiba – tiba
memegang tangannya.
“Karena kau sudah mengejekku, jadi kau yang harus
mengerjakannya !”
“O... kamu mengancamku ya ?, dasar cowok !, lepaskan
tanganku, kalau tidak”
“Kalau tidak apa”
“Aku akan berteriak” berbalik tesya yang malah
mengancam
“Silahkan saja” cengir jiwan
“Hih.. kau ini menyebalkan !”
“Sudahlah tesya, kerjakan saja, kasihan kalau dia
nanti dimarahi bu ranti” ucap nomi, selaku sahabatnya itu
“Ha, sahabatmu saja mendukungku, ayo kerjakan, aku
akan menunggumu”
Jiwan
menunggu sampai tesya menyelesaikan Prnya. Selesai mengerjakan PRnya mereka
semua kembali kekelas. Bel pulang berbunyi, Jiwan melihat tesya tengah berada
digerbang, sepertinya sedang menunggu seseorang.
“Hey jiwan !”
“Apa kau memanggilku ? Nona cerewet”
“Huh.. dasar kau ini.. !” dengan wajah cemberut
karena ledekan jiwan
“Ada apa ? apa kau ada perlu”
“Aku sudah mengerjakan Pr, Kata dewa seseorang yang
telah berbuat kebaikan harus diberi hadiah, dan apa kau tidak akan memberiku
sesuatu?”
“Memberimu sesuatu ? Hahaha... apa kau pikir aku ini
akan memberimu sesuatu ?, sudahlah aku mau pulang, dasar Nona cerewet” kemudian
jiwan meneruskan langkahnya
“Hey, tunggu dulu.. jangan pergi dulu.. ! awas kau
ya”
Jiwan
mengabaikan tesya, iapun pulang. Tesya sangat kesal dengan kelakuan jiwan, ia
memutuskan untuk tidak akan berbicara lagi padanya. Sesampainya dirumah tesya
terus saja bicara sendiri, sampai tidurpun ia terus saja bicara pada dirinya.
Malam itu, jiwan
teringat akan tesya, sepertinya ia memikirkan tesya. Menurutnya, tesya itu
cantik, kulitnya putih, rambutnya yang pendek dengan poninya yang lucu, dan
juga sikapnya yang sangat lugu membuat jiwan mengakuinya. Ia berfikir kalau ia
harus memberinya sesuatu.
“Apa aku menyukainya ? ah aku ini ngomong apa” jiwan
bertanya pada dirinya
Tengah
malam, iapun membungkus sesuatu untuk ia berikan besok pada tesya. Sepertinya
coklat adalah hadiah yang pas, ia membungkusnya lalu ia beri pita agar terlihat
cantik. Jiwan berharap semoga tesya senang dengan pemberiannya, ia jiga berniat
untuk minta maaf atas sikapnya tadi pagi.
“Aku harap ia suka dengan pemberianku ini”
Pagi
hari itu, ia melihat tesya tengah duduk sendirian diluar. Ini adalah kesempatan
jiwan untuk minta maaf pada tesya, dengan bungkus yang cantik seperti ini pasti
tesya menyukainya.
“Hay..., apa kau baik – baik saja”
Tesya lalu pergi saat jiwan menghampirinya tanpa
sepatah kata apapun. Sebenarnya tesya tidak ingin meninggalkan jiwan, menurutnya
tindakan yang ia lakukan salah. Jiwanpun merasa sangat bersalah terhadap
sikapnya kemarin. Sehabis pelajaran waktu istirahat itu, jiwan mengejar tesya.
Tesya yang lari terengah – engah akhirnya berhenti, ia tak tahu harus berbuat
apa lagi. Agaknya tingkah tesya sangat aneh batin jiwan.
“Kau kenapa biasanya kau tidak seperti ini,
setidaknya kau terima hadiah yang
kubungkus ini “ dengan nada kesalnya dan moodnya yang berubah kesal karena
perlakuan tesya.
Setelah jiwan
memberikannya, ia langsung pergi. Nampaknya tesya sangat menyesal telah
bersikap acuh pada jiwan. Sepertinya jiwan tidak akan bicara lagi dengannya.
Saat pelajaran jiwan terlihat fokus, biasanya ia mengganggu tesya dengan
menggoyangkan kursinya untuk minta bantuan mengerjakan tugas. Tapi, kali ini
jiwan tidak melakukannya.
“Apa jiwan tidak akan bicara paadaku lagi ?” batin
tesya dalam hatinya.
Sepulang
sekolah tesya membuka hadiah yang telah jiwan berikan padanya. Ternyata adalah
coklat, namun dibalik coklat ada sebuah surat. Isinya adalah “ Dengar, aku
minta maaf atas sikapku kepadamu. Aku berterimakasih karena kamu sudah mau
membantuku, aku harap kau suka dengan coklatnya”.
Setelah membaca surat
itu sepertinya hati tesya sangat menyesal sekali, telah bersikap seperti itu
kepada jiwan. Ia berfikir bahwa besok ia akan minta maaf pada jiwan. Tesya lalu
mandi, dan membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam. Sehabis makan, tesya
melihat adiknya didepan TV sedang memakan coklat.
