• Kamis, 27 Juli 2017


    Chapter 1
    I’m fine

    Images may be subject to copyright

                Tesya terbangun dari tidurnya, iapun lekas mandi dan memakai seragam hari senin. Ibunya memanggil utnuk sarapan, namun yang terjadi seperti biasanya ia menyambar roti yang telah diolesi ibunya dengan selai dan kemudian pergi berangkat sekolah dengan tergesa.

    “Hay nak, bisakah kau mencontoh adikmu ini. Kau selalu saja seperti itu” Ucap ibu tesya dengan nada kesal.
    “Maafkan aku ibu, aku terlambat” Jawab tesya dengan nada keras

                Tesya berlari melewati jembatan, karena hanya jembatan salah satu jalan menuju sekolah. Sampai dikelas, ia menyapa semua yang ada disana kecuali satu orang yang belum ia kenal. Entah siapa dia, namun tesya terlihat malu olehnya karena dia sangat tampan dan keren.

    Bel upacara berbunyi, lekas tesya mengambil topi dan ternyata ia lupa membawanya, sepertinya ia masih menaruhnya di atas meja makan tadi saat ia mengambil roti tadi. Tesya sangat takut kalau ia dihukum berdiri di samping ring basket, tesya membuat keadaan kelas menjadi rame karena pintanya pada semua orang untuk rela meminjami topi dirinya.

    “Tolong aku dewa, nanti aku bisa dihukum, dan kulitku nanti akan hitam” Merengek sambil berlari – lari.

                Tinggal tesya dan satu orang yang belum ia kenal, ia menghampiri tesya dan memberikan topinya pada tesya. Tesya tersipu malu saat orang itu menatap mata tesya dengan tatapan keren, namun tesya menundukkan kepala lalu mengucapkan terimakasih pada orang itu.

    “Kau pakai saja topiku”
    “Engh.. nanti kau bagaiman” jawab tesya dengan malu
    “Sudahlah kau ambil saja” dengan nada dinginnya orang itupun pergi

    Orang itupun keluar, tesya segera menuju lapangan dan berbaris. Hatinya bertanya-tanya saat ia mengingat orang tadi, ia merasa bahwa laki-laki tadi akan dihukum. Nampak dari kejauhan tesya melihatnya, orang itu berdiri disamping ring basket.

                Selepas uacara, ia duduk dibelakang tesya. Hati tesya semakin berdegub kencang sampai ia tak berani menoleh kebelakang. Guru yang datang lalu meyuruh orang itu untuk memperkenalkan dirinya, kemudian ia kedepan dengan kedua tangan yang ia taruh disaku membat semua perempuan dikelas mengaguminya. Namanya jiwan, dia pindahan dari smk tunas jaya dan hobinya adalah travelling.

                Setelah pelajaran selesai, Tesya dan nomi pergi kekantin. Ia melihat jiwan bersama bobi, sepertinya mereka sudah akrab karena terlihat mereka makan bersama dan ngbrol bersama. Bel berbunyi, semua murid masuk kelas. Pelajaran telah selesai, tesya melihat jiwan tengah berada digerbang. Tiba – tiba jiwan menghentikan langkah tesya, lalu menyapa tesya.

     “Hay..”
     “E.. Hay..”
     “Dasar cewek, mana topiku ?” tanya orang itu dengan nada paksa
     “Ee.. sebentar ini ada ditasku,” kemudian tesya membuka tasnya, sebenarnya ia tadi ingin mengembalikannya tetapi karena ia masih belum akrab jadi tesya malu.
     “Aku pergi dulu”
     “Hey, tunggu dulu !” Tesya menghentikan langkah jiwan
     “Ada apa ?” Berbalik muka ke arah tesya
     “Terimakasih berkat kau aku jadi tidak dihukum”
    “ Jangan GR dulu, aku tadi hanya kasihan padamu. Lagipula aku tidak tega melihat cewek dihukum”
    “Owh..  Begitu ya, tapi terimakasih”

                Jiwanpun berbalik dan mengangguk, sungguh  laki – laki memang aneh, sulit memahami sifatnya. Sesampainya dirumah, ibunya tesya bertanya pada tesya kalau tadi ia meninggalkan topinya dimeja. 

    “Kenapa kamu meninggalkan topimu ?” tanya ibunya
    “Akukan lupa bu..”
    “Sudah kubilangkan, jangan tergesa – gesa kalau berangkat!”
    “Sudahlah bu.. lagipula aku tadi tidak dihukum, ada orang yang menolongku tadi”
    “Yasudah lain kali sekalian tinggal saja telingamu,”
    “Ibu ini, sudahlah aku mandi dulu, aku tidak ingin berdebat” dengan nada marah tesya menjawab, lalu ia mengambil handuknya.

                Selepas makan malam, tesya melihat acara TV bersama keluarganya. Mereka yang terdiri dari ibu, ayah, adik dan kakak sangat menyukai acara sepakbola, apalagi kalau gol, hadeh teriakan mereka sangat mengganggu tetangganya sampai tengah malam. Tak khayal kalau mereka sering dimarahi tetangganya gara – gara suara mereka yang kencang. Ada juga yang menyebut mereka sebagai keluarga “Aneh”, tapi mereka tetap saja begitu.

    “Dia tampan, aku suka rambutnya, aku juga suka gaya dia berbicara” ucap tesya saat ia tidur.

    Pagipun tiba, seperti biasa mereka berebut kamar mandi, fano adalah adik tesya yang tak mau kalah, ia menyenggol lengan kakaknya agar ia bisa masuk duluan. Tak heran jika tesya sering terlambat kesekolah karena adiknya yang tak mau mengalah. Tesya berangkat dengan diantar ayahnya memakai mobil.

    Ketika sampai dikelas tesya melihat jiwan tengah berdiri didekat jendela sambil melihat Pohon yang ada dibawah. Tesya menghampiri jiwan, niatnya adalah mengajak dia mengobrol,
    “Apa yang sedang kau lakukan disini”
    “Apa kau ini tidak ada pekerjaan ?” menjawab lalu menoleh kearah tesya
    “Akukan hanya bertanya”
    “Dasar cewek,”
    “Menyebalkan sekali !” kemudian tesya pergi

                Ibu guru ranti datang, mereka kembali ketempat duduk mereka masing – masing.  Ia adalah wali kelas dikelas tersebut. Masalahnya adalah jiwan tidak  pandai matematika, saat menerangkan jiwan berusaha memperhatikan, namun saat Bu ranti menyuruhnya kedepan, jiwan tidak bisa mengerjakan soalnya.
     
    Akhirnya jiwan diberi PR khusus, tesya yang menertawainya terlihat sangat senang saat jiwan mengeluh. Bel berbunyi waktunya istirahat, tesya dan nomi pergi ke perpus untuk mengembalikan buku yang telah mereka pinjam.

                Jiwan yang membuntuti mereka sampai keperpus,  kemudian mendatangi tesya dan tiba – tiba memegang tangannya.

    “Karena kau sudah mengejekku, jadi kau yang harus mengerjakannya !”
    “O... kamu mengancamku ya ?, dasar cowok !, lepaskan tanganku, kalau tidak”
    “Kalau tidak apa”
    “Aku akan berteriak” berbalik tesya yang malah mengancam
    “Silahkan saja” cengir jiwan
    “Hih.. kau ini menyebalkan !”
    “Sudahlah tesya, kerjakan saja, kasihan kalau dia nanti dimarahi bu ranti” ucap nomi, selaku sahabatnya itu
    “Ha, sahabatmu saja mendukungku, ayo kerjakan, aku akan menunggumu”

                 Jiwan menunggu sampai tesya menyelesaikan Prnya. Selesai mengerjakan PRnya mereka semua kembali kekelas. Bel pulang berbunyi, Jiwan melihat tesya tengah berada digerbang, sepertinya sedang menunggu seseorang.

    “Hey jiwan !”
    “Apa kau memanggilku ? Nona cerewet”
    “Huh.. dasar kau ini.. !” dengan wajah cemberut karena ledekan jiwan
    “Ada apa ? apa kau ada perlu”
    “Aku sudah mengerjakan Pr, Kata dewa seseorang yang telah berbuat kebaikan harus diberi hadiah, dan apa kau tidak akan memberiku sesuatu?”
    “Memberimu sesuatu ? Hahaha... apa kau pikir aku ini akan memberimu sesuatu ?, sudahlah aku mau pulang, dasar Nona cerewet” kemudian jiwan meneruskan langkahnya
    “Hey, tunggu dulu.. jangan pergi dulu.. ! awas kau ya”

                Jiwan mengabaikan tesya, iapun pulang. Tesya sangat kesal dengan kelakuan jiwan, ia memutuskan untuk tidak akan berbicara lagi padanya. Sesampainya dirumah tesya terus saja bicara sendiri, sampai tidurpun ia terus saja bicara pada dirinya.

    Malam itu, jiwan teringat akan tesya, sepertinya ia memikirkan tesya. Menurutnya, tesya itu cantik, kulitnya putih, rambutnya yang pendek dengan poninya yang lucu, dan juga sikapnya yang sangat lugu membuat jiwan mengakuinya. Ia berfikir kalau ia harus memberinya sesuatu.

    “Apa aku menyukainya ? ah aku ini ngomong apa” jiwan bertanya pada dirinya

                Tengah malam, iapun membungkus sesuatu untuk ia berikan besok pada tesya. Sepertinya coklat adalah hadiah yang pas, ia membungkusnya lalu ia beri pita agar terlihat cantik. Jiwan berharap semoga tesya senang dengan pemberiannya, ia jiga berniat untuk minta maaf atas sikapnya tadi pagi.

    “Aku harap ia suka dengan pemberianku ini” 

                Pagi hari itu, ia melihat tesya tengah duduk sendirian diluar. Ini adalah kesempatan jiwan untuk minta maaf pada tesya, dengan bungkus yang cantik seperti ini pasti tesya menyukainya.

    “Hay..., apa kau baik – baik saja”

    Tesya lalu pergi saat jiwan menghampirinya tanpa sepatah kata apapun. Sebenarnya tesya tidak ingin meninggalkan jiwan, menurutnya tindakan yang ia lakukan salah. Jiwanpun merasa sangat bersalah terhadap sikapnya kemarin. Sehabis pelajaran waktu istirahat itu, jiwan mengejar tesya. Tesya yang lari terengah – engah akhirnya berhenti, ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Agaknya tingkah tesya sangat aneh batin jiwan.

    “Kau kenapa biasanya kau tidak seperti ini, setidaknya  kau terima hadiah yang kubungkus ini “ dengan nada kesalnya dan moodnya yang berubah kesal karena perlakuan tesya.

    Setelah jiwan memberikannya, ia langsung pergi. Nampaknya tesya sangat menyesal telah bersikap acuh pada jiwan. Sepertinya jiwan tidak akan bicara lagi dengannya. Saat pelajaran jiwan terlihat fokus, biasanya ia mengganggu tesya dengan menggoyangkan kursinya untuk minta bantuan mengerjakan tugas. Tapi, kali ini jiwan tidak melakukannya.

    “Apa jiwan tidak akan bicara paadaku lagi ?” batin tesya dalam hatinya.

                Sepulang sekolah tesya membuka hadiah yang telah jiwan berikan padanya. Ternyata adalah coklat, namun dibalik coklat ada sebuah surat. Isinya adalah “ Dengar, aku minta maaf atas sikapku kepadamu. Aku berterimakasih karena kamu sudah mau membantuku, aku harap kau suka dengan coklatnya”.

    Setelah membaca surat itu sepertinya hati tesya sangat menyesal sekali, telah bersikap seperti itu kepada jiwan. Ia berfikir bahwa besok ia akan minta maaf pada jiwan. Tesya lalu mandi, dan membantu ibunya untuk menyiapkan makan malam. Sehabis makan, tesya melihat adiknya didepan TV sedang memakan coklat.

    { 2 komentar... read them below or Comment }

  • Copyright © - Cerita Cinta Anak Remaja

    Cerita Cinta Anak Remaja - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan